Baby

All about Baby


5 Langkah, Agar BAB Bayi Lancar

Agar BAB Si Kecil lancar, sebelumnya mari kenali kondisi, frekuensi, dan gejala gangguannya terlebih dulu.

20 September 2020 7:00

Setelah bayi lahir, penting untuk memperhatikan kondisi BABnya. Hal ini penting untuk mengidentifikasi apakah ASI telah terserap dengan baik dalam tubuhnya atau memiliki penyakit tertentu yang perlu segera diperiksakan. Agar BAB Si Kecil lancar, sebelumnya mari kenali kondisi, frekuensi, dan gejala gangguannya terlebih dulu.

Frekuensi BAB Bayi yang Normal                

Menurut informasi yang dirilis melalui laman resmi IDAI, buang air besar turut dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya makan & minum, aktivitas, dan seberapa cepat kemampuan tubuh bayi mencerna makanan yang dikonsumsi. Selama 2 bulan pertama, bayi baru lahir yang diberi ASI bisa BAB sampai 10 kali sehari.

Untuk bayi yang diberi susu formula, normalnya mereka akan BAB sebanyak 1 – 4 kali sehari hingga 2 bulan pertama usianya. Setelah itu, frekuensi BAB berkurang menjadi setiap hari atau 2 x sehari.

Mendekati usia 2 bulan, frekuensi buang air besar mulai berkurang, bahkan bisa sampai 5-7 hari tidak buang air besar. Hal ini disebabkan oleh fungsi saluran cerna bayi yang berangsur berkembang, sehingga refleks gastrokolika mulai mengendur. Namun, selama bentuk tinja masih berbentuk pasta/lembek, buang air besar yang jarang merupakan hal yang normal. 

Dengan semakin bertambahnya usia, frekuensi BAB makin mendekati normal. Setelah  berusia 3 tahun, biasanya BAB anak sudah sama seperti orang dewasa, yaitu satu kali sehari.

Ilustrasi: Bayi sedang menangis karena susah BAB. Source: Freepik

Tanda - Tanda Bayi Susah BAB:

  1. Buang air besar kurang dari dua kali dalam seminggu.
  2. Bentuk tinja lebih keras dari biasa walaupun frekuensinya tidak berubah.
  3. Si Kecil terlihat kesakitan saat buang air besar.
  4. Tekstur tinja keras dan berbentuk bulat, seperti tahi kambing.
  5. Tampak gelisah & perutnya terasa mengeras.

Gangguan atau penyakit bawaan yang perlu diwaspadai mama adalah Hirschsprung: Kondisi usus besar yang kesulitan mengeluarkan tinja. Hal ini ditandai dengan keterlambatan pengeluaran meconium (tinja pertama bayi yang berwarna hitam) sejak 24 jam bayi dilahirkan. Gejalanya: Sejak lahir sudah mengalami kesulitan BAB, tinja keras, dan perut bayi membuncit karena adanya tumpukan tinja dalam usus.

Penyebab sembelit pada bayi, diantaranya:

  1. Konsumsi susu formula berlebihan. Susu formula lebih ama diserap di dalam usus sehingga dapat menyebabkan sembelit. Oleh karena itu, ada baiknya Mama berkonsultasi dengan dokter anak untuk pemberian susu formula sesuai usia.
  2. Konsumsi suplemen penambah zat besi.
  3. Terlalu banyak makan serat. Kebalikan dari orang dewasa, bayi yang mengonsumsi serat justru dapat memicu sembelit.
  4. Kurang konsumsi lemak. Selain dapat membantu meningkatkan berat badan, fungsi lemak diantaranya adalah untuk melancarkan pencernaan.
  5. Kurang cairan. Perlu diingat, air putih hanya boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan. Fungsinya adalah untuk membantu melancarkan pencernaan dan membersihkan rongga mulut bayi.

Untuk mencegah sembelit & agar BAB bayi lebih lancar, mama dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Perbaiki menu makan Si Kecil. Kurangi serat dan tambahkan lemak untuk membantu melancarkan pencernaan. Pilihlah jenis buah yang banyak mengandung air seperti semangka, pir, atau jeruk. Beberapa opsi tambahkan lemak bisa diperoleh dari santan, butter, margarin, atau minyak sehat.
  2. Berikan ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan pertama sejak kelahirannya.
  3. Pijat ILU. Gerakan pijatan ini dapat merangsang keinginan bayi untuk BAB. Caranya, mulai dengan memijat area perut sesuai gerakan huruf I, L, lalu U. Lanjutkan dengan menggerakkan kedua kaki seperti sedang mengayuh sepeda.
  4. Mandi air hangat. Bisa dicoba nih! Mandi dengan air hangat dikatakan dapat membuat tubuh bayi rileks sehingga mampu membantu melancarkan saluran pencernaan.
  5. Perbanyak konsumsi cairan. Berikan ASI, atau jika bayi sudah berusia diatas 6 bulan, kebutuhan cairan dapat diperoleh dari air putih, jus buah, atau kuah sayur. (Nathalie Indry/CC/Photo: Freepik.com)

Responses
Write a responses...
Redeem Cart