Kids

All about Kids


Manfaat & Waktu Terbaik Sunat Pada Anak Laki – Laki

Berdasarkan rekomendasi WHO, sunat pada anak laki – laki dinyatakan dapat mengurangi risiko infeksi HIV hingga 60%

17 September 2020 12:00

Dalam penjelasan sederhana, sunat/sirkumsisi merupakan operasi pembuangan kulup atau kulit yang menutupi bagian ujung atau kepala penis. Tindakan ini dikatakan lebih banyak mengandung manfaat daripada risikonya.

Berdasarkan rekomendasi WHO, sunat pada anak laki – laki dinyatakan dapat mengurangi risiko infeksi HIV hingga 60%. Selain itu, mencegah penularan beberapa infeksi menular seksual, mencegah fimosis (kelainan pada penis yang belum disunat berupa kulup atau kulit kepala penis yang melekat erat pada kepala penis), dan kanker penis. Sunat pada laki - laki terbukti tidak mempengaruhi fungsi / sensitivitas penis atau kepuasan seksualdi kemudian hari.

Sementara itu, The American Academy of Pediatrics telah mempublikasikan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa dari 14.893 bayi laki-laki yang tidak disunat, 86% diantaranya menderita infeksi saluran kemih pada usia di bawah 1 tahun. Jadi, terbukti bahwa sunat memang dapat membantu mencegah terjadinya infeksi pada alat kelamin anak laki-laki.

Kapan Waktu Terbaik Melakukannya?

Di Indonesia sendiri, sunat terkait erat dengan adat istiadat dan kepercayaan sehingga waktu pelaksanaannya dilakukan saat mereka berusia menjelang dewasa atau dalam rentang usia 9 – 12 tahun. 

Sementara itu, dengan alasan medis, WHO merekomendasikan bayi laki – laki disunat sejak usia 7 – 14 hari setelah dilahirkan. Di usia ini, umumnya bayi belum merasakan sakit sehingga tidak menimbulkan trauma secara psikologis, lalu pembuluh darah Si Kecil juga masih kecil sehingga menurunkan risiko pendarahan; proses pemulihan luka dapat berjalan lebih cepat.

Berikut merupakan acuan standar pelaksanaan sunat pada anak laki – laki secara general seperti yang dilansir dari laman American Academy of Pediatrics:

  1. Dokter yang menasihati keluarga tentang sunat harus membantu orang tua dengan menjelaskan manfaat dan risikonya, dengan memastikan bahwa mereka memahami prosedur pelaksanaan sunat dengan baik.
  2. Orang tua harus mempertimbangkan manfaat dan risiko kesehatan dengan mempertimbangkan preferensi agama, budaya, dan pribadi mereka sendiri, karena manfaat medis saja mungkin tidak melebihi pertimbangan lain untuk setiap keluarga.
  3. Orang tua dari bayi laki-laki yang baru lahir harus diinstruksikan tentang perawatan penis, terlepas dari apakah mereka telah disunat atau belum.
  4. Sunat sebaiknya dilakukan hanya jika kondisi bayi stabil dan sehat.
  5. Sunat harus dilakukan oleh praktisi yang terlatih dan kompeten, dengan menggunakan teknik steril dan manajemen nyeri/pemberian obat bius yang efektif.

Seperti Ini Lho, Gambaran Tindakan Sirkumsisi!

Umumnya, terdapat 2 cara tindakan operasi bedah sirkumsisi atau sunat, yaitu secara konvensional dan smart clamp. Cara pertama adalah dengan memotong kulit yang menutupi kepala penis, kemudian menjahitnya. Sementara smart clamp adalah metode menghentikan aliran darah ke kulit kulup sehingga bagian tersebut akan mengalami kematian dan terlepas dengan sendirinya. 

Sebelum melakukan sunat, Si Kecil akan diberi anestesi lokal, sedangkan pada tindakan sunat yang dilakukan saat bayi masih bayi/balita, biasanya diberikan anestesi umum, untuk memudahkan dokter untuk melakukan tindakan. 

Risiko pada sunat bayi memang perlu diperhatikan, sekalipun tergolong rendah dan hanya terjadi pada 1–2% dari keseluruhan bayi yang disunat. Berikut diantaranya:

  1.   Infeksi & pendarahan.
  2.   Cedera pada penis.
  3.   Peradangan.
  4.   Gangguan pada saluran kemih, seperti penyempitan pada saluran kencing.
  5.  Masalah pada kulup, seperti kulup yang lama mengalami penyembuhan atau menempel di ujung penis dan membutuhkan tindakan perbaikan. (Nathalie Indry/CC/Photo: Freepik.com)

Responses
Write a responses...
Redeem Cart