Motherhood

All about Motherhood


Pandemi Berdampak Kuat Terhadap Kesehatan Mental Mama. Harus Bagaimana?

Salah satu sumber stres terbesar dilaporkan berasal dari tidak memadainya fasilitas pengasuhan anak. 

13 September 2020 12:00

74% Mama mengungkapkan bahwa mereka merasa secara mental lebih buruk sejak awal pandemi Covid 19. Survei ini dirilis oleh media Motherly, Amerika Serikat pada bulan April 2020. 

Mama yang bekerja, mengaku merasa lelah fisik & mental – selain karena harus mengurus kebutuhan domestik, pada saat yang bersamaan juga bekerja. Salah satu sumber stres terbesar dilaporkan berasal dari tidak memadainya fasilitas pengasuhan anak. 

Bagaimana dengan Indonesia?

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat perempuan dan anak rentan mengalami kekerasan akibat dari dampak yang timbul selama pandemi. “Salah satu penyebabnya adalah pembatasan aktivitas sehingga membuat perempuan berada di rumah dengan segala macam risiko, terutama terpuruknya kondisi ekonomi rumah tangga. Hal ini juga memicu tingkat stres yang tinggi terhadap perempuan,” ungkap Menteri PPPA I Gusti Bintang seperti dikutip dari laman kompas.com. 

Survei Kementerian PPPA terhadap 717 anak di 29 provinsi Indonesia mengungkapkan bahwa sebanyak 91% anak telah mendapat pendampingan orangtua selama belajar dari rumah, tetapi peran ini hanya dibebankan kepada perempuan.

Beberapa tantangan berat yang harus dihadapi mama selama menjalankan aktivitas dari rumah, diantaranya:

  1.   Terpuruknya kondisi ekonomi rumah tangga. Kondisi ini menimbulkan tingkat stress yang tinggi. 
  2.   Tidak semua mama memiliki kemampuan mendampingi dan memfasilitasi kegiatan belajar di rumah. 
  3.   Kurangnya waktu tidur berkualitas/me time. Survei yang digelar oleh Motherly diatas menyatakan bahwa hanya 8% mama yang mendapat waktu tidur cukup (minimal 8 jam). 

Perempuan (Memang) Lebih Rentan Terhadap Stres

Mama, mari kita pahami bahwa pada dasarnya, wanita memang dikatakan 2 kali lebih mudah menderita depresi daripada pria. Salah satu faktor yang diyakini berperan meningkatkan risiko ini adalah perubahan hormonal. Pada wanita, perubahan kadar hormon, seperti estrogen dan progesteron dapat memengaruhi bagian sistem saraf yang berhubungan dengan suasana hati. 

Psikolog sekaligus founder Ruang Tumbuh Irma Gustiana A, M.Psi mengungkapkan bahwa situasi ini dapat dikatakan momen krisis yang tidak biasa, sehingga akan sangat menguras energi para mama baik secara pikiran, kesehatan, maupun mentalnya. 

 

Namun, tentu ada hal yang bisa diusahakan agar mama dapat menjawab tantangan tersebut. Diantaranya:

  1. Prioritaskan kesehatan fisik. Mulai dari mengatur pola makan untuk mendapat nutrisi seimbang, olaharga, serta tidur yang cukup. Stamina yang bugar diperlukan bagi setiap mama untuk dapat menjalankan aktivitas sehari – hari.
  1. Buat jadwal harian yang lebih fleksibel, realistis & tertata. Langkah ini akan membantu mama untuk dapat menyusun daftar prioritas pekerjaan yang harus dilakukan dalam satu hari.
  1. Spend time alone! Poin ini merupakan pondasi utama supaya tidak burn out. Pastikan juga mama dan papa saling berbagi tugas supaya problem domestik dan pengasuhan anak dapat teratasi. 
  1. Masukkan jadwal “jeda”.Yang sering terlupakan, mama juga butuh istirahat! Bagi bersama pasangan jadwal harian yang di dalamnya terdapat jadwal untuk melakukan hal yang disukai selama minimal 30 menit setiap hari untuk mengimbangi kelelahan fisik & mental. 
  1. Pererat komunikasi dengan pasangan. Keterlibatan papa dalam hal ini menjadi sangat penting. Sangat dianjurkan untuk berkomunikasi, saling menyampaikan keluhan, rasa tidak nyaman, dan berusaha untuk mencari solusi yang lebih realistis.

Belum terlambat untuk menjalin komunikasi dengan seluruh anggota keluarga mengenai bentuk dukungan yang mama butuhkan. Always remember: Happy mama, happy kids! (Nathalie Indry/CC/Photo: Freepik.com) 


Responses
Write a responses...
Redeem Cart