Motherhood

All about Motherhood


Parental Burnout, Berbeda dengan Depresi

Menjalankan peran sebagai orangtua meningkatkan risiko depresi sekaligus menambah kebahagiaan

3 October 2020 7:00

Semakin banyak orangtua yang mengaku mengalami stres, kelelahan, bahkan depresi paska melahirkan. 

Menjalani peran ganda sebagai mama dan pekerja, atau mengurus rumah tangga memang bukan hal mudah. Kurangnya waktu istirahat seringkali menjadi faktor utama penyebab kelelahan. Apakah mama juga mengalaminya?

Sebuah studi yang dipublikasikan melalui The Atlantic mengungkap bahwa menjalankan peran sebagai orangtua meningkatkan risiko depresi sekaligus menambah kebahagiaan. Depresi paska melahirkan biasanya dapat menghilang setelah beberapa lama, tetapi faktor kelelahan terbukti tidak dapat hilang begitu saja - bahkan menetap selama periode pengasuhan anak berlangsung. 

Beberapa hal dapat memengaruhi kondisi ini diantaranya kualitas hubungan dengan pasangan (termasuk komunikasi), kematangan usia, dan faktor ekonomi. Semakin rendah kualitas ketiganya, semakin rentan mama mengalami stres atau kelelehan fisik dan mental.

Parental Burnout, Berbeda dengan Depresi Biasa?

Hasil penelitian yang dilansir dari laman resmi pshycologytoday memberikan bukti bahwa kelelahan orang tua atau yang biasa disebut parental burnout berbeda dengan kelelahan kerja dan depresi yang biasa dialami oleh masyarakat luas. Kelelahan yang spesifik dialami oleh para orangtua ini sedikitnya memiliki 3 gejala utama, diantaranya kelelahan, merasa "jauh" dari anak - anak, dan tidak produktif dalam menjalankan aktivitas sehari - hari. 

Perbedaan utamanya dengan depresi klinis adalah, saat penyintas depresi diberi tawaran untuk melakukan refreshment sebagai langkah penyembuhan diri, mereka tidak akan tertarik/merasa bergairah. Sementara itu, parental burnout membuat orangtua yang kelelahan mendambakan sesi khusus bagi dirinya sendiri atau aktivitas refreshment lain untuk mengembalikan energi positif.

Meskipun begitu, mama tetap harus waspada karena perasaan "jauh" atau sengaja ingin menjauh dari anak - anak dapat memberikan efek negatif bagi kesehatan mental mereka. Si Kecil akan merasa ditolak oleh orangtuanya sendiri, tidak mendapat kasih sayang seutuhnya, hingga merasa terabaikan. 

             Ilustrasi: Seorang mama sedang bersedih saat sedang berinteraksi melalui sosial media. Source: Freepik.

Moira Mikolajczak, penulis utama penelitan tersebut mengatakan bahwa faktor kelelahan dan kurang produktif dapat diatasi dengan berbagai cara, diantaranya:

  1. Menghindari kesempurnaan. Jadilah orangtua yang lebih cerdas, bukan melakukan segalanya dengan usaha yang keras, karena tidak ada mama yang sempurna.
  2. Minta bantuan. Komunikasikan kegiatan harian mama dengan pasangan atau keluarga besar, minta bantuan untuk menggantikan posisi mama dalam menemani Si Kecil yang sedang belajar, atau menjaga anak - anak saat mama menyempatkan diri menikmati me time. 
  3. Jaga jarak dengan sosial media. Dunia maya kerap memberikan tekanan sosial yang terselubung, namun nyata dirasakan. Mama tidak sengaja membandingkan pola pengasuhan, kondisi kesehatan anak, hingga menciptakan kesenjangan sosial. Ada baiknya melakukan detoks sosial media atau mengaksesnya dengan bijak.

Butuh Me Time, Bukan Langkah Egois

Me time terbukti dapat membuat pikiran lebih jernih, menurunkan tingkat stres, bahkan dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung sebesar 22%. Karena mama akan mengurus seluruh aktivitas dan keperluan anggota keluarga, maka sesi ini dianggap penting untuk menjaga kesehatan jiwa. Saat kesehatan fisik & mental terjaga, anak - anak akan bahagia, hubungan dengan pasangan juga dapat terjalin lebih harmonis. 

Saat menyadari intensitas kemarahan mama sudah semakin sering, mengalami penurunan produktivitas, mudah tersinggung dan lelah secara fisik, mintalah bantuan kepada pasangan dan jelaskan mama sedang membutuhkan waktu khusus untuk menikmati berbagai hal sendiri. Mulai dari melakukan hobi seperti menjahit, melukis, membaca buku, berolahraga, hingga memanjakan diri melalui rangkaian spa. Ide lain, mama dapat mencoba melakukan aktivitas tambahan sebagai upaya refreshment secara rutin, misalnya mengikuti kelas online memasak mempelajari hal baru bersama teman - teman.  

Seringkali mama mendahulukan kepentingan anak - anak dan pasangan tanpa memperdulikan diri sendiri. Padahal, sesekali, kita semua juga butuh penyegaran. Stay sane, stay positive! (Nathalie Indry/CC/Photo: Freepik.com) 


Responses
Write a responses...
Redeem Cart