Kids

All about Kids


Penyebab & Solusi Ketika Kakak Adik Bertengkar

Penyebab utama kakak dan adik sering bertengkar diantaranya adalah pola asuh orangtua dan pengaruh kepribadian.

22 September 2020 7:00

Penyebab utama kakak dan adik sering bertengkar diantaranya adalah pola asuh orangtua dan pengaruh kepribadian masing – masing.

Indah Sulistyorini, M.Psi, Psi, Psikolog klinis dewasa Ruang Tumbuh menjelaskan lebih detail mengenai penyebab terjadinya pertengkaran antara kakak & adik atau yang dikenal sebagai sibling rivalry, “Biasanya sekitar usia 3 - 5 tahun, anak - anak sudah mulai mengenal emosi sehingga pertengkaran antar keduanya sudah bisa terjadi.”

Pada usia 3 tahun sesuai tahap perkembangan psikososial dari Erik Erikson yang mengetengahkan teori initiative vs guilt di mana anak sudah  mulai melakukan eksplorasi seiring semakin berkembangnya kemampuan motorik dan bahasa. Ia mulai memahami adannya aturan sosial di lingkungan terdekat, adanya pembatasan & aturan sehingga kehadiran orang lain yang baru dalam hidupnya membuat Ia harus memahami adanya pembagian perhatian dari orangtua.

Jenis Kelamin Memengaruhi Terjadinya Konflik

Selain itu, anak dengan jenis kelamin yang sama lebih memicu terjadinya siblling rivalry. Sebenarnya hal lebih menentukan adalah bagaimana perlakuan orang tua terhadap anak. Apakah misalnya karena adiknya masih bayi, lalu semua perhatian ditujukan kepada adiknya, atau misalnya bagaimana sikap orang tua di saat Ia membutuhkan perhatian, juga jarak usia yang dekat dengan sang adik.

Tapi, penting juga untuk dipahami bahwa tidak selalu pertengkaran ini bersifat negatif. Melalui proses ini, anak – anak dapat belajar untuk mengenali emosi diri dan memahami proses pemecahan masalah.

                                     Ilustrasi: Kakak & adik berdamai setelah bertengkar. Source: Freepik

Oleh karena itu, mama pun perlu melakukan langkah intervensi yang turut membangun pola berpikir kritis anak – anak yang dapat dilakukan saat itu juga, diantaranya:

  1. Tunjukkan empati secara adil. Siapapun yang salah, sebaiknya mama berada di posisi netral untuk tidak membela siapapun. Tunjukkan empati bahwa telah terjadi konflik dan jelaskan mengapa perlu berdamai kembali.
  2. Ajak anak melihat sudut pandang yang berbeda. Seperti mengapa kakak/adik melakukan kesalahan tersebut, dan memahami perasaannya.
  3. Beri contoh tindakan yang benar. Mama bisa memberi contoh, apa yang sebaiknya dilakukan supaya tidak memancing konflik.
  4. Dorong anak untuk memecahkan masalah bersama. Dengan duduk bersama dan saling berpendapat tanpa melibatkan emosi. Mama berperan penting sebagai penengah.
  5. Terapkan batas tanpa kekerasan. Penting bagi anak – anak untuk memahami bahwa kekerasan tidak diperkenankan untuk mencapai tujuan masing – masing. Mama dapat mengusahakan agar mereka lebih sering meluangkan waktu berdua dan saling berbagi.

Ajari Anak Berempati dengan Konsep “Nunchi” dari Korea Selatan

Melalui bukunya, The Power of Nunchi: The Korean Secret to Happiness and Success, Euny Hong mengungkapkan bahwa untuk membangun hidup yang lebih harmonis, masyarakat Korea Selatan menanamkan konsep yang disebut “Nunchi”, sebuah seni untuk menyelami pemikiran dan perasaan orang lain sejak usia dini. Mereka dilatih untuk mengungkapkan emosi melalui isyarat non verbal atau intonasi suara yang berbeda.

Melalui konsep ini, kita diajak untuk terbiasa membangun empati pada anak dengan cara merubah sudut pandang dalam keadaan yang terbatas. Misalnya, saat sedang berebut mainan dengan kakak, mama dapat mengingatkan anak – anak tentang keberadaan orang lain yang hidup dibawah garis kemiskinan dan tidak memiliki ragam mainan. Sehingga mereka terbiasa diajak berpikir dari sudut pandang orang lain dan tidak langsung bereaksi negatif dalam sebuah peristiwa.

Dalam kehidupan sehari- hari, Nunchi mengajak kita untuk lebih banyak mendengar dan memahami situasi dari berbagai macam perspektif. Konsep ini sekaligus membiasakan mereka tidak selalu menjadi pusat perhatian akan segala hal, akan tetapi memahami dirinya adalah bagian dari lingkungan sekitar yang menginginkan keharmonisan dalam hubungan. Selamat mencoba, ya! (Nathalie Indry/CC/Photo: Freepik.com)


Responses
Write a responses...
Redeem Cart